Dec 18, 2025
Yuliyana W.
5menit Dibaca
Docker adalah software open-source yang digunakan untuk meluncurkan (deploy) aplikasi di dalam container virtual. Dengan container virtual ini (containerization), aplikasi bisa dijalankan secara terisolasi di environment yang kompleks sehingga tidak menimbulkan masalah pada environment lainnya.
Masih bingung tentang apa itu docker? Jadi, mudahnya begini: Docker adalah platform container atau lingkup isolasi, yang nantinya container ini bisa digunakan untuk menjalankan suatu aplikasi atau layanan dengan lancar di sistem yang berbeda (misalnya Cyberpanel VPS dan dedicated machine).
Di tutorial ini, selain membahas apa itu Docker, kami juga akan menjelaskan cara kerja Docker, kelebihan dan kekurangannya, serta perbedaannya dengan Virtual Machine (VM) dan beberapa sistem lainnya. Selamat membaca! Jangan lupa untuk menyimak sampai akhir, ya!
Download Istilah-Istilah Web Development untuk Pemula
Cara kerja Docker adalah dengan menciptakan sebuah ruang isolasi untuk meluncurkan aplikasi atau layanan. Ruang isolasi ini disebut Container, seperti ‘wadah’ yang akan menampung suatu benda agar tidak tumpah ke area lain.
Docker container adalah sebuah paket software yang berisi semua dependensi yang diperlukan untuk menjalankan aplikasi tertentu. Semua konfigurasi dan instruksi untuk memulai atau menghentikan container diperintahkan oleh sebuah komponen yang disebut ‘image Docker’.
Container ini menghindarkan user dari masalah kompatibilitas yang mungkin terjadi ketika menjalankan aplikasi di beberapa sistem yang berbeda. Sebab, dengan container ini, software akan berjalan dengan cara yang sama di environment mana pun.
Kapan pun image dijalankan user, container baru akan dibuat.
Pengelolaan container juga mudah berkat bantuan Docker API atau command line interface (CLI). Apabila beberapa container diperlukan, user bisa mengontrolnya dengan Docker compose tool.
Selain container yang baru saja dibahas, arsitektur Docker terdiri dari empat komponen utama, yaitu:

Docker memiliki banyak fungsi untuk berbagai contoh penerapan. Di bagian ini, kami akan membahas fungsi Docker dan tiga contoh umum penggunaannya.
Mencoba Software Baru
Dengan Docker, Anda bisa mencoba software baru tanpa harus menginstalnya secara manual. Docker juga berguna kalau Anda memerlukan software yang harus disiapkan cepat.
Sebagai contoh, proses setup server MySQL bisa memakan waktu lama. Nah, dengan Docker, Anda hanya memerlukan satu perintah melalui CLI untuk melakukannya.
Mempelajari CLI
Meskipun bisa berjalan pada semua jenis perangkat, tadinya Docker dirancang khusus untuk Linux. Jadi, kami menyarankan agar Anda mengonfigurasinya pada sistem yang berbasis Linux.
Dengan begitu, Anda pun bisa mempelajari administrasi sistem, command line interface, dan scripting lebih lanjut dengan lebih baik.
Mengurangi Risiko Insiden
Apabila terjadi kegagalan hardware, user bisa segera mengembalikan perubahan apa pun yang dibuat kalau tersedia image Docker.
User hanya perlu mengimpor backup image ke perangkat baru, lalu Docker akan membereskan sisanya. Backup image Docker juga berguna saat developer ingin melakukan rollback ke versi lama software tertentu karena adanya bug atau masalah kompatibilitas.
Nah, setelah Anda memahami apa itu Docker dan fungsinya, sebaiknya cari tahu juga kelebihan dan kekurangannya. Meskipun memiliki banyak manfaat, Docker juga memiliki kelemahan dalam beberapa aspek. Di bagian ini, kami akan membahas kelebihan dan kekurangan software ini.
Meski Docker dan Virtual Machine (VM) memiliki fungsi yang serupa, ada perbedaan dari keduanya dalam hal performa, dukungan OS, dan portabilitas.
Perbedaan Docker dan Virtual Machine adalah, container Docker menggunakan OS yang sama dengan host, sedangkan VM memiliki OS tamu yang berjalan dari sistem host. Metode operasi ini memengaruhi performa, kebutuhan hardware, dan dukungan OS.
Agar lebih mudah, simak detail perbandingannya pada tabel di bawah ini.
| Docker | Virtual Machine | |
| OS | Menggunakan OS yang sama antar-container | OS baru untuk setiap VM |
| Keamanan | Kurang aman karena OS dan kernel digunakan bersama | Lebih aman karena VM tidak berbagi sistem operasi |
| Performa | Performa cepat bahkan dengan beberapa container | Makin banyak VM, performa makin kurang stabil |
| Waktu booting | Cepat (dalam hitungan detik) | Lambat (dalam hitungan menit) |
| Memori | Ringan | Memerlukan banyak memori |
| Kebutuhan ruang penyimpanan | Biasanya dalam ukuran megabyte | Biasanya dalam ukuran gigabyte |
| Portabilitas | Mudah diluncurkan di berbagai lingkungan | VM sulit di-port ke sistem lain |
Meskipun teknologi container Docker lebih unggul pada hampir semua aspek, VM lebih aman karena sistem operasinya tetap terpisah (independen) dari hardware.
Docker adalah platform untuk membangun dan menjalankan container, sedangkan Kubernetes adalah sistem orkestrasi (orchestration) container open-source.
Keduanya tidak bisa dibandingkan secara langsung, karena Docker digunakan dalam pembuatan container, sementara Kubernetes mengelolanya pada skala besar. Namun, Docker menawarkan sistem orkestrasinya sendiri yang disebut Docker Swarm.
Mari lihat perbandingan Kubernetes dan Docker Swarm pada tabel di bawah ini.
| Kubernetes | Docker Swarm | |
| Penginstalan | Sulit dan lama | Mudah dan cepat |
| Skalabilitas | Penskalaan otomatis | Tidak menawarkan penskalaan |
| Pembuatan cluster | Mudah | Sulit |
| Load balancing | Manual | Otomatis |
| Monitoring | Tool monitoring bawaan | Hanya mendukung tool monitoring pihak ketiga |
Demikian pula, Jenkins tidak bisa dibandingkan dengan Docker karena keduanya adalah produk yang berfungsi untuk tujuan yang berbeda.
Jenkins adalah sistem automasi inti untuk model development CI/CD (Continuous Integration and Continuous Delivery), yang digunakan para developer untuk merilis potongan-potongan kecil kode secara terus-menerus untuk mencegah error penggabungan. Sementara itu, Docker adalah sistem containerization.
Meski tidak bisa dibandingkan, Anda bisa menggunakan keduanya untuk memperoleh hasil terbaik. Atur Jenkins untuk menjadwalkan berbagai tugas, dan atur Docker untuk mengisolasi job satu sama lain dengan bantuan container.
Proses development aplikasi memang cukup rumit, dan memastikan semuanya berfungsi sebagaimana mestinya akan lebih sulit lagi. Dengan Docker container, masalah ini bisa diatasi sehingga para developer bisa melakukan porting software dengan mudah.
Di artikel ini, kami sudah membahas semua tentang apa itu Docker, perbedaan Docker dan VM, cara kerja, dan perbandingannya dengan sistem populer lainnya seperti Kubernetes dan Jenkins. Kami juga membahas kelebihan dan kekurangannya, serta contoh penggunaannya.
Semoga artikel ini bisa membantu Anda mempelajari Docker lebih lanjut, ya. Kalau masih punya pertanyaan atau saran, silakan sampaikan melalui komentar di bawah ini!
Docker adalah nama platformnya, sedangkan Docker Engine adalah teknologi container open-source yang terdiri dari server Docker (daemon), client, dan API. Pemahaman antara software Docker terkadang tertukar dengan client Docker karena disebut juga dengan docker, tapi ditulis dengan huruf kecil.
Docker CE dan EE adalah dua versi Docker yang berbeda. Docker CE tersedia gratis, sementara Docker EE adalah layanan premium. Keduanya menawarkan fitur dan fungsi inti yang sama, tapi berjalan pada OS yang berbeda. Kalau Anda tidak sedang membuat software dalam skala besar, kami menyarankan agar Anda memilih CE.
Menguasai Docker memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, tapi sebenarnya cukup mudah untuk langsung mencoba meluncurkan container pertama Anda. Untuk memulai, Docker menyediakan aplikasi Docker Desktop yang mudah digunakan, dan menawarkan dokumentasi lengkap untuk user pemula dan lanjutan.
Semua konten tutorial di website ini telah melalui peninjauan menyeluruh sesuai standar dan komitmen editorial Hostinger.