Jan 24, 2025
Faradilla A.
4menit Dibaca
Pernahkah Anda batal mengunjungi sebuah website karena waktu loadingnya terlalu lama? Ya, hal ini selalu menjadi masalah besar bagi pemilik website. Tapi jangan khawatir, ada banyak solusi untuk masalah ini, yang salah satunya akan kami jelaskan dalam artikel ini: web cache.
Di sini, Anda akan mempelajari apa itu web cache dan cara menggunakannya.

Pertama, mari kita cari tahu terlebih dahulu pengertian cache. Secara umum, cache adalah ruang penyimpanan yang menyimpan data sementara dari aplikasi atau website. Nah, web cache adalah ruang yang menyimpan data di server untuk digunakan lagi nanti agar proses loading website menjadi lebih cepat.
Berikut cara kerja web cache:
Tentu saja, jika websitenya diperbarui, proses ini akan diulang lagi dari awal.
Ada dua hal yang perlu diingat: pertama, tidak setiap website menggunakan cache. Kedua, cache bisa kedaluwarsa atau dihapus secara manual.
Jika Anda menggunakan Google Chrome dan ingin menghapus cache, klik menu tiga titik di bagian kanan atas halaman, lalu pilih Riwayat (atau tekan Ctrl + H). Kemudian, klik Hapus Data Penjelajahan. Setelah itu, centang opsi yang Anda inginkan, lalu pilih Hapus data.
Web caching berperan cukup signifikan dalam mempercepat loading website. Ini bisa meningkatkan performa website Anda, karena nantinya pengunjung tidak perlu menunggu lama sampai website selesai dimuat.
Pemrosesan permintaan HTTP yang lebih sedikit berarti website akan menggunakan lebih sedikit bandwidth. Ini bisa menjadi hal yang baik bagi Anda, terutama jika Anda memiliki resource terbatas.

Setelah mengetahui apa itu web cache, sekarang mari kita bahas jenis-jenisnya. Ada dua jenis web cache, yang pertama adalah server-side caching, dan yang kedua adalah browser-side caching.
Server-side cache merupakan jenis web cache yang ada di hardware. Jenis web cache server-side ini menyimpan sementara data dari server.
Nah, server-side website cache juga memiliki beberapa jenis:
Cache browser merupakan ruang pada aplikasi browser yang menyimpan setiap file yang dibutuhkan browser untuk menampilkan halaman website tertentu. Elemen yang disimpan oleh cache ini di antaranya adalah HTML, CSS, Javascript, PHP, gambar, dan lain-lain.
Adanya browser cache ini bisa mempercepat website yang sedang dikunjungi. Cache browser juga menyimpan data personalisasi, misalkan login, data transaksi, atau konten khusus. Hal ini memungkinkan user untuk tidak perlu lagi melakukan request dan transmisi data untuk mengakses website yang dikunjungi.
Browser-side caching terjadi saat Anda mencoba memuat website yang sama dua kali. Pertama, website akan mengumpulkan data untuk memuat halaman. Setelah mengunduhnya, browser akan menjadi tempat penyimpanan sementara untuk data tersebut.
Sampai di sini, kita sudah mempelajari apa itu web cache dan jenis-jenisnya. Sekarang, kami akan membahas penggunaannya.
Web caching bisa digunakan untuk meningkatkan kinerja situs WordPress. Kode yang diperlukan bisa ditulis sendiri, tetapi sayangnya tidak semua orang paham cara melakukannya. Tenang, ada cara alternatif untuknya.
Hostinger, misalnya, menawarkan hosting WordPress dengan fitur cache bawaan. Paket yang tersedia dimulai dari Rp12900.00 per bulan. Selain itu, Hostinger memberikan jaminan uang kembali dalam 30 hari jika Anda merasa kurang puas dengan layanan yang kami berikan.
Nah, kemudian, ada juga plugin WordPress yang cukup efektif untuk mengelola web caching. Plugin yang tersedia bisa diinstal dan digunakan dengan mudah, jadi Anda bisa mengimplementasikannya tanpa masalah. Namun ingat, hanya gunakan satu plugin caching untuk memastikan situs berjalan secara optimal. Berikut beberapa plugin caching WordPress terbaik:

W3 Total Cache adalah salah satu plugin caching WordPress gratis yang paling populer. Ekstensi ini cocok untuk pengguna yang ingin mencoba berbagai jenis web caching. Plugin ini menawarkan semuanya, mulai dari cache halaman sampai fragment caching.

WP Super Cache memiliki cara yang unik untuk menyimpan cache website. Plugin ini memiliki tiga kategori untuk sistem penyimpanan cache: expert, simple, dan WP-cache caching. Model simpelnya menggunakan PHP untuk menyediakan file statis. Expert menggunakan mod_rewrite Apache, dan WP-cache caching menggunakan halaman dari pengguna sebelumnya.

Autoptimize adalah plugin cache WordPress yang berfokus pada skrip dan gaya. Modelnya cukup simpel dan tidak bertele-tele, karena Anda hanya perlu mencentang opsi yang diberikan untuk mengoptimalkan HTML, Javascript, dan CSS website.
Sekarang Anda sudah tahu apa itu web cache, jenis-jenisnya, dan cara menggunakannya. Jadi, website cache adalah fungsi penting yang memastikan website bisa dimuat secara lebih cepat.
Nah, sebagai rangkuman, berikut beberapa hal yang sudah kita pelajari dalam artikel ini: Web cache memiliki berbagai jenis: Full-page cache, DNS cache, CDN cache, Object cache, Opcode Cache, dan Fragment Cache. Semuanya memiliki fungsi yang sama, yaitu mempercepat loading website, tetapi area optimasinya berbeda-beda.
Untuk memastikan website WordPress Anda menggunakan web caching yang berfungsi penuh, manfaatkan hosting WordPress dengan fungsi penyimpanan cache bawaan atau gunakan plugin agar lebih mudah. Jika memiliki pertanyaan, jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah ini!
Semua konten tutorial di website ini telah melalui peninjauan menyeluruh sesuai standar dan komitmen editorial Hostinger.